Pradana Indra Putra: Lahirnya Ramadhan Jazz Terinspirasi dari Java Jazz

Jakarta — Gelaran Ramadhan Jazz Festival (RJF) yang kini telah memasuki usia 15 tahun ternyata berawal dari sebuah kegelisahan sederhana para remaja masjid Cut Meutia. Hal tersebut disampaikan oleh Pradana Indra Putra yang menjadi salah satu penggagas awal lahirnya festival musik tersebut.

Dalam kesempatan sambutannya di halaman Masjid Cut Meutia, Dana menceritakan bagaimana kondisi organisasi remaja masjid sekitar 16 tahun lalu yang tidak terlalu diminati anak muda.

Saat itu, Mas Dana menjabat sebagai ketua Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA). Ia mengaku cukup sulit mengajak generasi muda untuk aktif dalam kegiatan masjid karena stigma yang berkembang saat itu.

“Dulu ketika mengajak anak-anak muda bergabung dengan organisasi masjid itu tidak mudah. Banyak yang menganggap kegiatan remaja masjid itu culun dan tidak keren,” ungkapnya saat memberikan sambutan di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).

Terinspirasi dari Java Jazz Festival

Mas Dana kemudian melihat fenomena menarik ketika banyak anak muda justru antusias menghadiri berbagai festival musik, salah satunya Java Jazz Festival yang saat itu sedang populer di kalangan generasi muda.

Festival musik tersebut menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda dari berbagai komunitas. Dari situ muncul gagasan sederhana: mengapa tidak membuat kegiatan yang juga menarik bagi anak muda, tetapi tetap berada dalam lingkungan masjid?

mas dana ricma

Ide tersebut kemudian disampaikan kepada Agus Setiawan Basuni dari WartaJazz yang dikenal aktif dalam mempromosikan musik jazz di Indonesia.

“Gagasan itu kemudian ditanggapi oleh Mas Agus. Alhamdulillah akhirnya kami bisa bekerja sama dengan WartaJazz, dan dari situlah lahir Ramadhan Jazz Festival,” jelas Mas Dana.

Kolaborasi antara komunitas remaja masjid dan pelaku industri musik jazz tersebut akhirnya melahirkan sebuah konsep festival yang unik: pertunjukan jazz yang digelar di lingkungan masjid selama bulan Ramadan.

Bangun Semangat Persaudaraan  

Menurut Mas Dana, sejak awal Ramadhan Jazz Festival dibangun dengan semangat kebersamaan, persatuan, dan persaudaraan.

Festival ini tidak sekadar menjadi ruang hiburan, tetapi juga menjadi medium untuk menyebarkan pesan Islam yang damai dan penuh rahmat bagi semua.

“Ramadhan Jazz lahir dengan semangat kebersamaan, persatuan, dan persaudaraan. Utamanya membawa semangat rahmatan lil ‘alamin, menjadi rahmat untuk semua,” katanya.

Nilai tersebut menjadi dasar mengapa festival ini selalu disertai dengan kegiatan sosial, termasuk penggalangan dana untuk berbagai program kemanusiaan dan pembangunan masjid.

Komitmen Membantu Pembangunan Masjid di Sumatera Barat

Pada penyelenggaraan tahun ini, Ramadhan Jazz Festival juga mengusung misi sosial untuk membantu pembangunan kembali sebuah masjid di Sumatera Barat yang memiliki nilai sejarah.

Masjid tersebut berada di kampung halaman ulama besar Indonesia, Buya Hamka.

Menurut Mas Dana, kondisi masjid tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar dapat kembali berdiri dan digunakan oleh masyarakat sekitar.

“Malam ini insyaAllah menjadi medium untuk membantu saudara-saudara kita di Sumatera Barat, di kampungnya Buya Hamka. Masjid di sana hancur dan kami berkomitmen membantu membangunnya kembali,” ujarnya.

Ia pun mengajak seluruh pengunjung Ramadhan Jazz Festival serta masyarakat luas untuk ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana tersebut.

“Ayo ajak teman-teman untuk menyumbang agar masjid Buya Hamka bisa dibangun kembali,” katanya.

Festival Nonkomersial dengan Semangat Gotong Royong

Mas Dana juga menegaskan bahwa Ramadhan Jazz Festival bukanlah acara komersial yang berorientasi pada keuntungan.

Menurutnya, festival ini dapat terselenggara setiap tahun berkat semangat gotong royong dari berbagai pihak yang mendukung kegiatan tersebut.

Banyak vendor dan mitra yang memberikan dukungan besar, bahkan dalam bentuk potongan harga hingga layanan gratis.

“RJF bukan acara komersial. Banyak vendor yang memberikan diskon habis-habisan, bahkan ada yang memberikan dukungan secara gratis,” jelasnya.

Dukungan tersebut, kata Mas Dana, menunjukkan bahwa banyak pihak yang memiliki visi yang sama untuk menghadirkan kegiatan positif bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Mengajak Anak Muda Meramaikan Masjid

Di akhir sambutannya, Mas Dana mengajak generasi muda untuk kembali meramaikan masjid di lingkungan mereka masing-masing.

Menurutnya, masjid seharusnya tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang kegiatan sosial, budaya, dan edukasi bagi masyarakat.

“Ramaiakan masjid di lingkungan teman-teman masing-masing,” pesannya.

Dengan perjalanan lebih dari satu dekade, Ramadhan Jazz Festival kini tidak hanya menjadi acara musik tahunan, tetapi juga simbol kolaborasi antara komunitas, seni, dan nilai-nilai keislaman yang inklusif.

Festival ini membuktikan bahwa masjid dapat menjadi ruang kreatif yang dekat dengan generasi muda sekaligus menjadi pusat kegiatan sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.[]